Silahkan berkunjung dan bergabung ke facebook HKBP Laut Dendang di FB-HKBPLD. Anda akan mendapatkan firman Tuhan setiap harinya berdasarkan Almanak HKBP dan juga ke Youtube HKBP Laut Dendang di Youtube-HKBPLD berita terkini seputar Gereja HKBP Laut Dendang. Semoga Blog, Facebook dan Youtube HKBP Laut Dendang ini bermanfaat. Dan bisa menjadi berkat bagi kita semua. Amin

Minggu, 05 April 2015

Paskah : Adalah DASAR dan PUSAT IMAN KRISTEN

Bagaimana dengan Paskah dewasa ini? Bukankah hari raya Paskah agak dianaktirikan oleh kita? Dibandingkan dengan perayaan Natal, maka perayaan Paskah sering kali sepi-sepi saja. Mengapa? Karena banyak orang tidak memahami kekayaan dan kedalaman Paskah bagi hidup manusia. Pada hal peristiwa Paskah adalah sumber dan titik tolak iman Kristen. Seluruh kitab Injil dan seluruh kitab Perjanjian Baru ditulis karena adanya peristiwa Paskah.

Paskah adalah dasar dan pusat iman Kristen.

Rasul Paulus berkata, ”Andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah segala pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.” Seluruh hidup dan pekerjaan Tuhan Yesus selama 33 tahun itu, hanya dapat kita mengerti kalau kita memahami makna peristiwa Paskah. Begitu sentralnya peranan Paskah dalam kehidupan Kristen, sehingga dapat dikatakan bahwa sebenarnya setiap hari Minggu adalah hari perayaan Paskah. Kalau peristiwa Paskah tidak terjadi, apa gunanya kita berdoa, sebab Kristus yang sudah meninggal dunia tidak mungkin mendengar doa kita. Kalau Kristus tidak dibangkitkan, Ia hanyalah pahlawan yang sudah gugur. Sehebat-hebatnya pemikiran yang ditinggalkan seorang pahlawan, ia toh tidak bisa memimpin kita di masa kini. Padahal yang kita butuhkan adalah Juruselamat dan pemimpin hidup untuk masa kini.

Kenyataannya adalah: Kristus bangkit dan hidup! Ia hidup hingga kini. Ia memerintah kita dengan Roh dan Firman-Nya. Itu berarti, dengan peristiwa Paskah, kita menerima kepastian pengampunan dosa, kepastian iman dan kepastian hidup. Bukankah itu menggembirakan? Kata Paulus, ”Syukur kepada Allah, yang memberikan kepada kita kemenangan oleh Kristus, Tuhan kita,” dalam 1 Kor 15:57. Oleh karena itu, bukankah sepatutnya kita saling menyatakan perasaan gembira pada hari Paskah? Dengan mengucapkan: Selamat Paskah! Gereja –gereja Ortodoks yang banyak terdapat di Rusia, Yunani dan Negara-negara Eropa Timur, mempunyai kebiasaan menyatakan kegembiraan itu dengan salam Paskah yang khas. Mereka mengucapkan,”Kristus Tuhan. Kristus sudah bangkit!” Lalu orang yang menerima salam itupun menjawab,”Benar, Ia sudah bangkit!”  Bukankah salam itu mengandung inti yang paling pokok dari iman kita?

Paskah (Ibrani: Pesakh; Yunani: to paskha), pasca, artinya sudah lewat, sudah lalu, sudah terlampaui. Paskah menjadi hari raya agama yang terbesar dan terpenting bagi orang Yahudi. Paskah memperingati keluarnya bangsa Israel dari  Mesir; lolosnya umat Israel dari maut. Paskah selalu diperingati dengan memakan gulai pahit dan roti yang tidak beragi. Gulai pahit melambangkan pengalaman pahit pahit dari masa silam. Jangan sampai hal itu terulang. Roti yang tidak beragi mengingatkan orang Isarel bahwa keberangkatan mereka dari Mesir tanpa diduga-duga, tanpa mereka bersiap (bahkan tak sempat menunggu sampai adonan roti mereka mengembang!) Hal ini juga mengingatkan mereka bahwa semua itu terlampaui, terlewati, terlalui, semata-mata karena intervensi ilahi.

Paskah! Bangsa Israel diingatkan, mereka bisa menjadi seperti yang sekarang ini adalah karena Paskah. Bayangkan sekiranya tidak ada Paskah! Pertanyaannya mungkin bukanlah ”Di manakah mereka?” tetapi, ”Masih adakah mereka?” Paskah bersangkut paut erat dengan eksisitensi mereka: eksis atau tidak eksis,to be or not to be. Dan adalah campur tangan Tuhan yang memungkinkan mereka melewati/melampaui/keluar dari Mesir dan maut. Bayangkan mereka melewati Laut Merah bila tanpa intervensi Allah!

Menurut Paulus, bagi orang Kristen, Paskah juga amat-bahkan, paling-sentral! Sentral bagi Yesus dan sentral bagi kita. Pertama, Yesus sudah melalui/mengatasi maut. Saya bayangkan hari yang paling menegangkan adalah “Sabtu Diam”. Diam, lengang, sunyi, sama seperti dua jagoan yang berdiam, sebelum menarik pistol mereka. Seolah-olah tidak ada apa-apa, padahal itulah saat yang paling menentukan. Kedua, kita sudah melampaui/dibawa keluar dari keadaan perbudakan kita yang lama, kepada keadaan/status kehidupan yang baru. Bandingkan 1 Petrus 2:9-10 : dari kegelapan ke terang-Nya yang ajaib, dari bukan umat menjadi umat(=ami), dari tidak dikasihani menjadi dikasihani (=ruhama).

Alkitab hendak mengatakan: Yesus benar-benar bangkit (1 Kor.15:4-8)

Haleluya! Dan ini bagaimana mungkin terjadi? Karena Yesus bangkit! Andai kata tidak?, maka sia-sialah kekristenan kita (1 Kor.15:4).. Tetapi bukan peristiwanya itu yang penting! Yang penting adalah kuasa-Nya. Yang penting bukanlah memperingati sebuah peristiwa,melainkan mengalami sebuah kuasa. Kuasa apa? Kuasa kemenangan! Apa artinya? Pertama, mengalami hidup yang berkemenangan! Menyadari dan menghayati, bahwa “kita lebih dari pada orang-orang yang menang.” We  are the winners! (Rm.8:37).  Mesti kuat bagai baja, teguh bagai batu karang, tidak lembek seperti bubur! Hai orang Kristen jangan: congkak, angkuh, sombong! Tetapi juga jangan minder, atau tiarap terus! Kedua, Paskah berarti: yang lama sudah berlalu, yang baru sudah terbit. Kita adalah putra-putri zaman baru! Jangan mau diikat dan terbelenggu oleh kenyataan masa kini. Semua yang ada sekarang ini (betapapun kokoh kelihatannya) sedang berlalu. Semua ini passing away! Kita, putra-putri Paskah, harus  passing over! Jangan peduli dengan soal tetek-bengek. Songsong era baru, kemungkinan baru! Paradigma baru!

(3)Paskah berarti: yang tidak mungkin, ternyata mungkin. Yang impossible ternyata possible. Making possibilities out of the impossibilities. Hal ini sangat relevan sekali untuk masa krisis di mana kita hidup sekarang ini, bukan? Ketika semua upaya manusia mentok, kita justru tenang. Sebab kita hanya punya satu kemungkinan bergantung kepada Tuhan. Tuhan yang telah bangkit dari kematian!

Kebangkitan Yesus kita rayakan setiap Minggu.

Dari perayaan kebangkitan Yesus inilah asal usul gereja berbakti pada hari Minggu. Gereja yang mula-mula pun berbakti pada hari Sabtu, meneruskan kelaziman itu. Tetapi kemudian Gereja mengalihkan kebaktiannya dari hari Sabtu ke hari Minggu dan ini tidak terlalu lama setelah kebangkitan Yesus. Di Kis. 20:7 kita membaca: ”Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti…” Dan di  I Kor. 16:2 Paulus menulis: ”Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu…” Perubahan kebaktian dari hari Sabtu ke hari Minggu merupakan suatu keputusan yang drastis, mengingat bahwa Gereja pada waktu itu kebanyakan terdiri dari orang-orang Yahudi, yang memegang terus tradisi Sabat.  Tentu ada alasan yang sangat kuat untuk mengubah hari kebangkitan Yesus sebagai peristiwa yang besar, sehingga mereka ingin merayakannya setiap minggu. Dan karena Yesus dibangkitkan pada hari Minggu, mereka pun bersedia mengalihkan hari kebaktian menjadi hari Minggu. Sebutan “Hari Minggu” dalam bahasa kita sebenarnya juga berarti “Hari Tuhan”, sebab kata Minggu berasal dari kata Portugis Dominggo yang berarti hari Tuhan. Pada tahun 321, Kaisar Contantinus dengan undang-undang menetapkan hari Minggu sebagai hari libur di seluruh wilayah kekaisarannya. Dari ketetapan itu, yang kemudian menjadi universal, kini dunia mengenal hari Minggu sebagai hari libur.

Kenapa hari perayaan Paskah berubah setiap tahun?

Berbeda dengan Natal. Paskah tidak mempunyai tanggal yang tetap. Yang lebih sulit lagi, bulannya pun tidak tetap. Kadang-kadang Paskah jatuh pada bulan Maret dan kadang-kadang pada bulan April. Mengapa begitu? Pada abad kedua, mulai ada jemaat-jemaat Kristen yang mengkhususkan hari Minggu tertentu untuk dirayakan sebagai hari Paskah setahun sekali. Jemaat Kristen yang asal Yahudi berpendapat bahwa Paskah sebaiknya dirayakan sebagai pengganti Paskah Yahudi. Jadi tanggalnya adalah hari ke-empat belas dalam bulan Nisan, yaitu bulan menurut kalender Yahudi, tanpa mempersoalkan hari. Sebaliknya, jemaat-jemaat Kristen yang berasal dari bangsa-bangsa lain berpendapat bahwa Paskah sebaiknya dirayakan pada hari Mingu. Tetapi soalnya, hari Minggu yang mana? Pada tahun 325, dalam persidangan gerejawi di Nicea, ditetapkan dengan resmi sebuah patokan bersama untuk menetapkan hari Paskah. Patokan itu adalah:Paskah dirayakan pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama yang jatuh pada atau sesudah tanggal 21 Maret, yaitu tanggal permulaan musim semi. Apakah bulan purnama itu jatuh pada hari Minggu, maka Paskah dirayakan pada hari Minggu berikutnya. Keputusan tersebut dipegang terus oleh semua Gereja di seluruh dunia hingga kini. Dengan patokan itu, setiap tahun Paskah jatuh antara tanggal 22 Maret dan 25 April. Kalau tanggal Paskah sudah kita ketahui, maka dengan mudah dapat pula kita tetapkan tanggal hari raya Gerejawi lain di sekitar Paskah, yaitu Jumat Agung (tiga hari sebelum Paskah), Kenaikan Tuhan (empat puluh hari sesudah Paskah) dan Pentakosta (lima puluh hari sesudah Paskah).

Seluruh hidup Tuhan Yesus yang 33 tahun hanya dapat dimengerti kalau kita memahami makna Paskah. tanpa Paskah, tidak akan ada iman Kristen. Begitu pentingnya Paskah, sehingga sejak zaman lahirnya Gereja. Paskah dirayakan sebagai pusat perayaan Kristen. Bahkan tiap hari Minggu adalah Paskah. Selamat Paskah!


Pdt..Luhut P. Hutajulu

Source : http://goo.gl/pvxtbk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar