Silahkan berkunjung dan bergabung ke facebook HKBP Laut Dendang di FB-HKBPLD. Anda akan mendapatkan firman Tuhan setiap harinya berdasarkan Almanak HKBP dan juga ke Youtube HKBP Laut Dendang di Youtube-HKBPLD berita terkini seputar Gereja HKBP Laut Dendang. Semoga Blog, Facebook dan Youtube HKBP Laut Dendang ini bermanfaat. Dan bisa menjadi berkat bagi kita semua. Amin

Kamis, 18 Oktober 2018

Pembaruan perjanjian di Sikhem

Yosua 24:1-3, 14-25

Narasi Yosua 24 dilatarbelakangi oleh saat-saat terakhir Yosua. Ia sudah lanjut usia (Yos. 23:1-2). Karena Yosua menyadari bahwa tak lama lagi ia akan meninggal, maka ia memanggil seluruh umat Israel, para tua-tuanya, para kepalanya, para hakim dan para pengatur pasukannya (Yos. 23:2). Lalu di Yosua 24 tindakan Yosua memanggil seluruh umat tersebut diulang. Di Yosua 24, Yosua memanggil umat Israel di Sikhem (Yos. 24).


Perbedaan tindakan Yosua memanggil umat Israel di Yosua 23 dan Yosua 24 adalah pemanggilan umat Israel di Yosua 23 bersifat informal, sedang pemanggilan umat Israel di Yosua 24 bersifat formal. Sebab kisah pemanggilan umat Israel di Yosua 24 ditempatkan dalam konteks Yosua mengikat umat Israel dengan perjanjian. Ini terlihat dari Yosua 24:25, yaitu: “Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem.” Perjanjian (berith) di Yosua 24 merupakan pembaruan perjanjian dengan Allah di gunung Sinai (Kel. 20).

Perjanjian dengan Allah di gunung Sinai telah termeterai dalam kehidupan umat Israel, namun perjanjian dengan Allah tersebut perlu dibarui sebagai peneguhan, khususnya karena Yosua akan pergi selama-lamanya meninggalkan umat Israel. Perjanjian dengan Allah tersebut perlu diteguhkan sehingga umat Israel mampu hidup setia dan mengasihi Allah di tengah-tengah realitas yang menyembah berbagai allah. Karena identitas, makna dan tujuan hidup umat Israel ditentukan oleh kesetiaan mereka kepada perjanjian dengan Allah. Perjanjian dengan Allah adalah inti kehidupan dan keselamatan mereka.

Menurut Louis Berkhof dalam Systematic Theology (Grand Rapids 1949, 262), makna kata berith (perjanjian) berasal dari kata barah, yang artinya “memotong.” Kata barah tersebut terlihat dari Kejadian 15:10, yaitu: “Diambilnyalah semuanya itu bagi Tuhan, dipotong dua, lalu diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain.” Lalu tindakan memotong tersebut ditempatkan oleh penulis Kitab Kejadian dalam konteks perjanjian (Kej. 15:18). Tindakan barah yang berarti memotong menjadi dua tersebut sekaligus berfungsi untuk mengikat. Berkhof merujuk kata berith dari bahasa Asyria, yaitu beritu yang artinya “mengikat.” Untuk itu kedua belah pihak yang terikat dalam perjanjian didasari oleh kesepakatan sukarela, sehingga tidak ada yang menempatkan diri lebih tinggi atau lebih rendah kepada pihak yang lain.

Dengan demikian makna perjanjian yang dilakukan Yosua di Sikhem sebagaimana juga pernah dilakukan Musa di Gunung Sinai adalah menempatkan hubungan Allah dan umat-Nya dalam hubungan yang setara. Keduanya menjadi subyek, yaitu: “Aku-engkau.” Yosua dan Musa hanya sekedar fasilitator, namun pelaku perjanjian yang sesungguhnya adalah Allah dengan umat-Nya. Allah mengikat umat-Nya dalam suatu relasi personal dan menghisapkan umat-Nya dalam persekutuan dengan diri-Nya. Namun perjanjian dengan Allah tersebut bukan karena perbuatan baik, jasa, dan kesalehan serta kelayakan umat (bdk. Ul. 9:4-5). Sama sekali tidak! Perjanjian tersebut terjadi karena inisiatif dan rahmat Allah, sehingga Allah berkenan menghisapkan umat ke dalam persekutuan dengan diri-Nya.

Dengan rahmat-Nya, Allah membangun persekutuan dan perjanjian dengan umat-Nya. Itu sebabnya dalam perjanjian di Sikhem, Yosua mengawali dengan kredo (pengkuan iman) yang dinyatakan dalam bentuk pernyataan: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya” (Yos. 24:2-3) Pengakuan iman tersebut didasari pada karya keselamatan Allah yang mengawali seluruh sejarah umat Israel, yaitu kisah pemanggilan leluhur Abraham.

Dari pemanggilan Abraham tersebut, Allah berkarya membentuk sejarah umat Israel dan keselamatan bagi umat manusia. Pemanggilan Allah kepada Abraham tersebut mengingatkan umat Israel bahwa leluhur mereka sebelumnya beribadah kepada allah lain. Karena itu dari status dan situasi mereka, para leluhur dan umat Israel tidak layak di hadapan-Nya. Dengan pernyataan Allah tersebut hendak menegaskan bahwa Yahweh adalah Tuhan yang berdaulat penuh dan bertindak berdasarkan kebebasan serta kerahiman-Nya. Ia memilih dan menetapkan sesuai dengan kedaulatan-Nya. Perhatikan kata kerja yang dipakai dalam pengakuan iman tersebut, yaitu: “Aku mengambil,” “menyuruh,” “membuat banyak keturunannya,” dan “memberikan Ishak kepadanya.” Kata kerja tersebut hendak menyatakan tindakan inisiatif dan rencana Allah dalam kehidupan umat Israel. Karena itu seluruh keberadaan dan kehidupan umat Israel sebagai bangsa terjadi karena karya keselamatan Allah, bukan ditentukan oleh kehebatan dan kemampuan, keahlian, kedigjayaan mereka, dan juga bukan ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan sekelilingnya.

Di Yosua 24:14 diawali dengan pernyataan: “oleh sebab itu.” Dalam teks Ibrani sebenarnya terdapat kata “sekarang” (attah) dan “karena itu” (yare). Karena itu makna kata “oleh sebab itu” dalam Yosua 24 menyatakan: kini (sekarang) tibalah umat Israel harus mengambil sikap sebagai respons iman terhadap karya keselamatan yang telah dilakukan Allah. Respons iman yang diharapkan adalah: “Takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.” Menurut James Newsome dalam Texts for Preaching Year A, pernyataan Yosua 24 hendak menegaskan: “Since Yahweh has done thus and so, Israel is now obligated to respond” (Newsome 1995, 553). Sebagaimana Allah telah melakukan hal-hal yang demikian, maka Israel sekarang berkewajiban untuk menyatakan tanggapannya. Karena itu tindakan dan karya keselamatan Allah yang telah mereka alami menjadi satu-satunya alasan sikap umat Israel untuk beribadah kepada Allah dengan takut, tulus-ikhlas, dan setia. Karya keselamatan Allah yang telah mereka alami bukanlah hasil pertolongan para allah yang disembah oleh nenek-moyang mereka di seberang sungai Efrat dn Mesir. Karena itu dalam beribadah dan menyembah Allah yaitu Yahweh tidak ada ruang sedikitpun untuk mendua kepada para allah tersebut. Umat Israel dalam beriman kepada Yahweh tidak dapat berada dalam wilayah “abu-abu.” Mereka harus berada pada posisi yang jelas. Karena itu di Yosua 24:15, Yosua berkata: ‘Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Umat Israel diberikan suatu pilihan tanpa paksaan, apakah mereka pada hari itu mau beribadah kepada para allah nenek-moyang, ataukah kepada Yahweh. Mereka diberi kesempatan oleh Yosua untuk mengevaluasi seluruh pengalaman dan tindakan Yahweh, apakah ada yang tidak baik bagi mereka. Jika tidak baik, janganlah beribadah kepada Yahweh. Iman kepada Yahweh dibuktikan dalam pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Namun apapun pilihan umat Israel, Yosua sebagai pemimpin dan keluarganya telah mengalami dan membuktikan kebaikan dan pemeliharaan Yahweh. Karena itu Yosua terlebih dahulu menegaskan sikapnya, yaitu: “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Sikap Yosua tersebut mengekspresikan suatu sikap seorang pemimpin yang tidak mudah terpengaruh oleh pandangan, opini, dan sikap umat yang dipimpinnya bila menyangkut soal iman. Yosua dengan jernih telah memberi wawasan dan refleksi teologis karya keselamatan yang telah dilakukan Yahweh. Karena itu logis bila dia telah menetapkan pilihan sikapnya untuk beribadah dan menyembah kepada Yahweh belaka. Namun sebagai pemimpin yang bersikap “demokratis” Yosua memberi keleluasaan kepada umatnya untuk mengambil pilihan dan sikap iman. Dengan sikap Yosua tersebut justru memampukan umat Israel untuk memilih sikap imannya dengan jernih. Karena itu umat Israel kemudian memberi jawaban di Yosua 24:16-18 memberi jawaban yang intinya adalah: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain.” Umat Israel memilih dan memutuskan untuk beribadah dan menyembah kepada Yahweh saja, dan tidak kepada allah lain.

Namun Yosua mengingatkan bahwa sikap umat Israel yang memilih percaya kepada Yahweh bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan. Yosua mengingatkan umat Israel akan konsekuensinya bila mereka beribadah dan menyembah kepada Yahweh. Di Yosua 24:19, Yosua berkata: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu.” Semangat dan antusiasme umat Israel untuk menyembah Yahweh dihadapkan oleh Yosua dengan suatu konsekuensi yang berbahaya dan menakutkan. Yahweh yang akan disembah umat Israel adalah Allah yang kudus dan cemburu. Allah yang kudus berarti Dia akan membinasakan semua hal yang cemar, dan berdosa. Allah yang mahabaik bisa menjadi “tidak baik” sehingga akan menghukum umat-Nya yang tidak setia (Yos. 24:20). Ia juga adalah Allah yang cemburu (elqana). Ungkapan Allah yang cemburu di Keluaran 20:4-5 dikaitkan dengan tindakan Allah yang akan membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Allah. Yahweh adalah Allah yang tidak bisa dipersekutukan dengan allah yang lain. Dia adalah Allah yang mahakuasa, satu-satunya Pencipta dan penyelamat bagi seluruh umat manusia. Karena itu beribadah, menyembah, dan melayani Dia membutuhkan keseluruhan (totalitas) diri umat. Yahweh hanya berkehendak dikasihi dan disembah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan umat-Nya. Dia menolak ibadah dan penyembahan yang setengah hati. Memilih dan beribadah kepada Yahweh, atau sama sekali tidak!

Respons umat Israel ternyata tidak berubah. Mereka memilih tetap setia dan melayani Yahweh, sehingga mereka berkata: “Kepada Tuhan, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan” (Yos. 24:24). Mereka dengan sungguh-sungguh mengucapkan ikrar yaitu sumpah setia kepada Yahweh, dan bersedia senantiasa mendengarkan firman-Nya. Atas dasar ikrar umat Israel tersebut, Yosua kemudian mengikat perjanjian dan membuat ketetapan serta peraturan bagi mereka di Sikhem (Yos. 24:25). Dengan perjanjian di Sikhem tersebut, umat kini memasuki tahap kehidupan baru sebagai umat perjanjian yang diperkenankan Allah hidup di tanah perjanjian, yaitu Kanaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar