Silahkan berkunjung dan bergabung ke facebook HKBP Laut Dendang di FB-HKBPLD. Anda akan mendapatkan firman Tuhan setiap harinya berdasarkan Almanak HKBP dan juga ke Youtube HKBP Laut Dendang di Youtube-HKBPLD berita terkini seputar Gereja HKBP Laut Dendang. Semoga Blog, Facebook dan Youtube HKBP Laut Dendang ini bermanfaat. Dan bisa menjadi berkat bagi kita semua. Amin

Selasa, 18 November 2014

PERSEMBAHAN

anggur-5.jpg

Oleh: Pdt Daniel Taruli Asi Harahap

1. Mengapa memberi persembahan?
Hampir dalam setiap pertemuan ibadah atau kebaktian kita mengumpulkan persembahan. Bahkan anak-anak Sekolah Minggu dan Remaja/ Pemuda kita yang jelas-jelas belum berpenghasilan sudah kita ajarkan untuk memberi persembahan. Ada bermacam-macam nama kita berikan kepada persembahan atau pengumpulan uang untuk umat Tuhan ini: persembahan: syukur, tahunan/ bulanan, persepuluhan, sulung, paskah, natal, ujung tahun atau tahun baru dll. Dan jika kita jujur gereja kita bisa beraktivitas dan hidup dari dan karena persembahan itu, begitu juga petugas-petugas yang sepenuhnya mengabdikan hidupnya untuk melayani gereja. Namun apakah sesungguhnya makna persembahan itu? Mengapa setiap kali bertemu dalam rangka gereja atau ibadah kita harus mengumpulkan persembahan? Apakah makna teologis persembahan?

2. Tuhan pemilik kehidupan.
Aktivitas dan kehidupan TUHAN tidak tergantung pada belas kasihan kita. Mazmur 50:7-14 dan Yesaya 1:10-13 secara eksplisit mengatakan bahwa Tuhanlah Pencipta dan Pemilik seluruh kehidupan ini. Bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan (I Kor 10:26). Sebagaimana kata sang pemazmur: “PunyaMulah siang, punyaMulah malam, punyaMulah langit, punyaMulah bumi” (Mazmur 74:16, Maz 89:12)
Itu artinya Tuhan sama sekali tidak tergantung kepada sokongan, bantuan apalagi belas kasihan kita untuk melakukan aktivitasNya. Bahkan Tuhanlah yang sesungguhnya yang empunya diri kita dan segala apa yang ada pada kita. Tubuh, jiwa dan roh, serta harta milik kita pada hakikatnya adalah milik Tuhan. Sebagaimana dikatakan oleh Rasul Petrus “kita sudah ditebus oleh Allah dengan darah yang Kristus kudus dan mahal itu” (I Pet 1:18-19), sebab itu kita telah menjadi milik Kristus dan milik Allah (I Kor 3:23, I Kor 6:9. Ef 1:4, Mazmur 100:3) . Jika memang segala sesuatu yang ada dalam diri kita dan pada kita milik Allah: apakah lantas arti persembahan? Sebab itulah dalam doa persembahan kita seyogianya mengatakan: siapakah aku ini, ya Tuhan sehingga pantas memberi kepadaMu? Apakah yang ada padaku yang tidak berasal dari Engkau? Tubuh, jiwa dan rohku dan harta milikku sesungguhnya adalah pemberianMu. Aku adalah milikMu!
“Tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah……Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (I Kor 3:23, 6:20)

3. Persembahan adalah penyerahan diri penuh
Rasul Paulus menyatakan agar kita mempersembahkan tubuh (baca: diri seutuhnya) kepada Allah. (Roma 12:1). “Serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk dipergunakan sebagai senjata-senjata kebenaran” (Roma 6:13b). Dalam Mazmur 51:19 dikatakan korban persembahan kepada Allah ialah jiwa yang hancur dan hati yang patah-remuk. Sebab Allah lebih menyukai kasih setia dan pengenalan akan Allah daripada korban persembahan. (Hosea 6:6). Allah menyukai perbuatan keadilan kepada sesama daripada korban (Amos 5:21-24). Sebagaimana disampaikan Rasul Paulus:“Supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Roma 12:1)

4. Persembahan bukan ganti hati dan sikap taat
Selanjutnya kita sadar bahwa hati dan dirilah yang seharusnya harus dipersembahkan kepada Tuhan. Uang tidaklah dapat menggantikan hati dan diri kita. Uang juga tidak dapat menggantikan sikap dan tingkah laku kita yang diminta Tuhan. Sebab itu persembahan juga bukanlah semacam uang “pelicin” untuk melunakkan hati Tuhan dan menutupi pelanggaran atau memaafkan kesalahan! Tuhan lebih menghendaki pengenalan akan Allah dan kesetiaan dibandingkan korban bakaran (Hosea 6:6).

5. Nilai persembahan ditentukan motivasi
Yesus sangat menekankan motivasi dalam memberi persembahan. Bagi Yesus bukan jumlah nominalnya namun motivasi yang menggerakkan seseorang memberi persembahan itulah yang terpenting dan menentukan nilai persembahan itu (Matius 6:1-4). Sebab itu Yesus menganjurkan memberi persembahan secara tersembunyi untuk menguji kesungguhan dan ketulusan hati orang yang memberi. Orang yang memberikan persembahan untuk mendapatkan pujian dari sesama manusia sudah mendapatkan upahnya (dari manusia) dan karena itu tidak mendapatkan upah lagi dari Allah Bapa yang di sorga.

6. Nilai persembahan tergantung prosentase berkat
Nilai persembahan itu harus diukur dengan memperbandingkannya dengan berkat Tuhan yang sudah diterima orang tersebut. Berapa persenkah berkat Tuhan yang dikembalikan orang tersebut sebagai persembahan. Persembahan janda miskin dalam Lukas 21:1-4 dianggap lebih besar daripada persembahan orang-orang kaya bukan karena nominalnya memang lebih besar, namun karena persentasenya lebih besar (dibandingkan dengan berkat materi yang diterima masing-masing). Persembahan karena itu haruslah juga menjadi tanda keadilan. Yang mendapat banyak (dari Tuhan) wajar jika memberikan lebih banyak (“kepada Tuhan”). Orang yang mendapat berkat Tuhan berlimpah harus memikul beban persembahan lebih berat supaya ada keseimbangan dan keadilan. (lihat II Kor 8:13-15)

Paramater menguji persembahan:
Ada pertanyaan yang harus diajukan oleh masing-masing orang untuk mengukur persembahannya pantas apakah tidak pantas. Jangan tanya berapa persembahan yang SUDAH Anda diberikan, tetapi berapakah berkat Tuhan yang BELUM atau TIDAK Anda dipersembahkan?

8. Makna persembahan
Pertama : Tanda Pengakuan
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa tubuh, jiwa, dan roh serta segala yang ada pada kita adalah berasal dari Tuhan dan pada hakikatnya milik Tuhan. Sebab itu kita harus mempergunakannya sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebagian dari apa yang ada itu kita potong (dengan sadar dan sengaja) dan kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda pengakuan bahwa pada hakikatnya diri dan harta yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Jumlah yang kita potong dan beri itu bisa saja kurang atau bahkan lebih dari sepuluh persen (persepuluhan). Namun harus “terasa sakit” atau pengaruhnya bagi yang memberi tersebut. Memberi persembahan secara benar ibarat “memotong” dan “memberi” bagian tubuh atau hidup sendiri orang lain. (Mal 3:10)

Kedua: tanda syukur dan terima kasih.
Dengan memberi persembahan kita mengaku bahwa kita sudah menerima (banyak) dari Tuhan. Sebagian kita kembalikan kepada Tuhan sebagai tanda syukur atau ucapan terimakasih. Sebab itu kita memberikannya dengan penuh sukacita dan ikhlas! Persembahan sebab itu adalah respons atau jawaban orang beriman terhadap kasih dan berkat Allah yang begitu besar kepadanya. Persembahan adalah respons karena dan bukan syarat supaya mendapatkan berkat Allah! Persembahan bukanlah situmulans untuk
merangsang kebajikan Allah namun reaksi atas kebajikan Allah. Persembahan bukanlah upeti yang dituntut Allah namun ucapan syukur manusia yang menerima berlimpah berkat. “Persembahkanlah syukur kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi” (Mazmur 50:14)

Ketiga: tanda kasih dan kemurahan hati.
Yesus Kristus sudah memberikan diriNya kepada kita, menderita dan berkorban bagi kita. Sebab itu kita juga mau memberi, berbagi dan berkorban bagi sesama kita. Sebagaimana Kristus rela memecah-mecah tubuh dan mencurahkan darahNya untuk umat yang dikasihiNya, kita juga mau memecah-mecah roti dan berkat kehidupan untuk sesama. Ketika memberi persembahan kita sekaligus mau mengingatkan diri kita dan membaharui komitmen/ janji kita untuk selalu memberi, berbagi dan berkorban sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus. (I Yoh 3:16-18).

Keempat: tanda iman atau kepercayaan
Kita percaya bahwa Tuhan mencukupkan kebutuhan kita dan menjamin masa depan kita. Sebab itu kita tidak perlu kuatir atau kikir. Dengan memberi persembahan kita mau mengatakan kepada diri kita bahwa kita tidak takut kekurangan di masa depan sebab Allah menjamin masa depan. Persembahan adalah tanda iman kita kepada pemeliharaan Allah di masa depan. Sebab itu kita memberi persembahan tidak hanya di masa kelimpahan tetapi juga di masa kekurangan, tidak saja sewaktu kaya namun juga saat miskin. (Lih. Flp 4:17-19, II Kor 9:8).

sumber : Rumametmet.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar